Sempadan

Yang tak kau lihat adalah aku

Garis tipis di cakrawalamu

Aku tak maju

Kaupun begitu

Biarlah aku hidup dengan tatapan kosongmu

Murid

Dari sini kubaca semuanya
Tak perlu lekat-lekat
Jauh pandangan
Tak terhalang jalan

Dari sini kujangkau apapun
Tanpa jarak tiada sekat
Melihat dengan matamu
Yang kupinjam tak kubilang

Jalanmu nyata bagiku
Di tiap keloknya aku dekat
Tanah di bawah kakimu
Kurasakan keras tanpa dinginnya

Itulah mengapa
Jangan tanya apapun
Aku mengalami harimu juga

Barang Tua

Dulu, ada seorang tua bernama Hans Bague Jassin. Dalam uzurnya, dia masih memimpin tali kemudi layar kesusastraan Indonesia. Dia Orang Besar sastrawan Pujangga Baru yang saat itu tak muda lagi. Saban hari kerjanya menerima sekian dari puluhan ribu naskah yang mendarat di atas meja kerjanya untuk ditahbiskannya dan sedikit sekali dia menikmati cuti karena pekerjaan-pekerjaan itu. Terkadang orang seperti Taufiq Ismail terikut membantunya.

Ada juga satu majalah usang. Lapuk karena umur dan gayanya. Namanya Horison. Orang tua itu dan teman-temannya menjaga majalah itu seperti induk singa, siaga tapi tanpa murka. Di kantor redaksinya, sebentuk bangunan yang entah mengapa bisa begitu cocok dengan para penghuninya. Banyak orang keluar masuk datang membawa naskah dalam map-map. Ada juga yang sekedar datang untuk minta rokok pada yang lain atau menumpang minum kopi.

Ya, Hans Bague Jassin dan Horison adalah barang lama. Berdua mereka adalah perbatasan antara yang “dulu” dan “kini”. Nisbi dalam pengucapan tapi mutlak untuk bisa dirasakan. Kalau melihat kita saat ini, kecepatan mundur kita jauh melebihi kecepatan majunya. Kita bisa merasakan beberapa kali bisa maju beberapa inchi tapi kemudian melesat mundur bermil-mil jauhnya. Mengingat lagi Hans Bague Jassin dan Horison, seperti membeli kesenangan yang hanya ada dalam bungkus waktu yang telah lewat.

Beberapa peristiwa besar mempengaruhi namanya. Sukarno mengambil jarak agar tak kentara dialah sebenarnya yang mengirim laskar Lekra menyerbu pikiran-pikirannya; tengoklah betapa seorang Hans Bague Jassin, lebih dikenal sebagai HB. Jassin, memilih sembilan bulan dibui demi membayar kebungkamannya.

Pada penghujung 1998, saat Jakarta sesak oleh udara yang dihembuskan bara reformasi dalam bisikan-bisikan ibu-ibu. Aku menjabat tangannya. Lembut tapi ada tekanan kuat di genggamannya. Aku katakan siapa yang berani melangkahi Orang Tua sepertinya dan memilih dibela sambil tetap bersembunyi. Dia tetap bungkam. Sikap yang sama seperti saat Pengadilan mengadilinya atas “Langit Makin Mendung”, tapi kali ini dengan seuntai senyum simpul kebapakan, yang telah berpengalaman memaafkan banyak orang.

Candu

Ditelan haus
Aku meraih apapun sejauh jangkauan
Lengan habis terjulur
Kembali hanya menggenggam bayangan

Remuk dalam telapak

Pecah muka yang kering
Kelu lidah oleh dahaga
Pejam mata menghitam
Geletar badan menanggungnya

Tak tahu caranya
Aku pasrah menunggu

Rumah

Di mana kau temukan Penciptamu

Di upacara

Di hati

Di ocehan tak bernyawa

Atau di nanar hati saat bersatu