Prasangka Berkeluarga

Kau tidak bisa berharap pasanganmu akan selalu berada di hatimu seperti saat pertama kali kalian dipersatukan oleh cinta. Hal seperti itu hanya ada di kisah-kisah romansa.

Tapi jangan khawatir. Tahapan berikutnya justru akan membuat hubungan kalian makin kaya. Saat kau sudah merasakan kehadirannya sebagai seorang sahabat.

Kalian akan berselisih dan mempertahankan ego. Tapi itu bukan karena perang kepentingan. Pada tahap itu kalian makin jujur pada satu sama lain. Karena harta dalam persahabatan adalah kejujuran menunjukkan sikap. Tanpa drama.

Setingkat kemudian, bukannya tak lagi menjadi sahabat, tetapi kalian malah menjadi sepasang saudara. Ya, saudara. Lain bapak lain ibu. Kalian akan otomatis menutupi aib masing-masing dan mampu berkorban apa saja untuk saling membela.

Karena kesetiaan tertinggi ada pada rasa persaudaraan. Di atas kepayang romansa kepada pacar atau kejujuran diantara para sahabat.

Jl. Makrifat Gg. Buntu

Menjangkau keagungan Tuhan adalah pekerjaan yang menuntut kedewasaan. Tuhan tidak bisa diterima secara utuh dalam sikap sederhana; karena adat, keluarga atau masa lalu. Tuhan hanya ada dalam jiwa yang telah sanggup melebur dan menjadi bagian dari kesemestaanNya.

Para ahli Tasawuf mendefinisikan bahwa manusia itu secara independen hakikatnya tidak ada. Maka segala sifat ketiadaan adalah sifatnya. Itulah kemiskinan hakiki. Akan halnya konsepsi mengenai kebodohan, ilmu, lemah, kuat, gelap, terang, baik, buruk, masuk kemudian setelah adanya Dzat Tuhan yg mengisi. Artinya, menurut mereka, sifat ke-“ada”-an hanyalah pantulan dari Tuhan yg mewujud.

Sayap pemikiran manusia, sepanjang jangkauan akalbudinya, memiliki kecenderungan untuk bertahan pada apa yang sudah mapan, dan getaran yang muncul dari pusat dirinya seringkali meningkahi keputusan-keputusan yang dibuat. Celakanya, justru di titik krusial itulah super ego bertahta.

Akan halnya agama, seperangkat aturan yang memunculkan batas-batas, memunculkan dimensi lain dari sekedar iman. Itulah ketertundukan pada hal-hal yg sebelumnya telah diterima tanpa melibatkan akalbudi samasekali. Itulah mengapa dalam Islam ada konsep Iman dan Taqwa. Dua aspek yg beriringan menuju pengetahuan akan Tuhan.

Kita Mewariskan Apa Kepada Anak Cucu?

Searah dengan kesimpangsiuran perilaku dan semakin tak dihiraukannya budi pekerti, di situlah kita hidup saat ini. Di pinggir jalan ketika roda-roda jaman menggilas apa saja di sepanjang jalur yang dilaluinya, di situlah tempat kita menaruh harap pada generasi yang akan datang.

Kata-kata yang tak lazim sudah diucapkan. Tingkah-polah ganjil yang tak pernah sesuai untuk segala suasana, dan di segala tempat, oleh siapapun juga, telah banyak kali dilakukan. Itupun dengan aksi pendiaman oleh mayoritas masyarakat. Seolah tak terjadi apa-apa. Bukan tidak mungkin pada akhirnya nanti tidak ada lagi yang merasa perlu untuk mengambil tindakan terhadap sesuatu yang tidak pantas diucapkan ataupun cukup bisa diterima akal sehat untuk dilakukan.

Karena sudah sekian kali terulang dan makin banyak orang yang melakukan, suatu perbuatan terburukpun pada akhirnya bisa diterima karena, katanya, ia sudah kerap kali dilakukan dan, oleh karenanya, dianggap lumrah. Maka tampaklah perbuatan yang biadab menjadi tidak lagi luar biasa, masih dalam batas kewajaran karena “batas” itu telah mengendur hingga meluas ke tingkatan yang paling rendah. Maka dalam kebisingan yang kian menyesakkan itulah kita merasa disuguhi oleh Sang Jaman dengan kejadian-kejadian yang semakin buruk. Kian hari kian memburuk. Lalu, dengan pegangan yang terus tergerus dan semakin menipis, kita menjadi mudah risau karena harus menghindarkan anak-anak kita dari contoh yang semakin tak pantas bagi tumbuh-kembang jiwa mereka.

Lihatlah pada para “guru” yang tak lagi patuh pada aturan, pemimpin yang mencederai kepercayaan atau penjaga yang sanggup mencuri apa yang dipercayakan padanya. Semua contoh buruk telah memampang seluruh auratnya di depan mata.

Bukanlah bahaya Tsunami, semburan lumpur Sidoarjo, flu burung, ataupun gempa bumi saja yang sering membuat kita resah, namun merosotnya harga diri serta hilangnya rasa malu diantara umat manusialah yang diam-diam sering mengganggu benak kita. Ibarat seekor rubah yang tengah mengintai mangsanya, bencana dahsyat yang bernama kehancuran moral itu menunggu saat yang tepat sebelum akhirnya ia benar-benar membinasakan nilai-nilai kemanusiaan dan mencabut pembatas yang memisahkan antara kemanusiaan dan kebinatangan. Ketika perbuatan tak lagi ditimbang berdasar kepatutan dan martabat, namun lebih diukur dengan kepentingan-kepentingan nafsu hewani.

Sempat kita terpikir untuk menaruh harap pada ahli-ahli etika, tokoh-tokoh moralis atau bahkan pemuka-pemuka agama. Mereka, dengan pengetahuan yang cukup memadai –setidaknya begitulah yang kita harapkan, akan mengurangi beban kekhawatiran kita dan akan selalu menjadi tempat bersandar sekian pertanyaan sebagai solusi atas makin kompleksnya problematika kehidupan. Namun ketika sebaran wabah zaman ternyata telah pula menjangkiti kalangan itu, menempelkan karat di bilah obyektifitas nalar mereka dan menawarkan sekian kenikmatan yang meninabobokan, merekapun tak ubahnya seperti yang lain. Atau mungkin bahkan menjadi agen-agen distorsi itu sendiri. Lantas kalau sudah begitu, kemana lagi kita akan menghadapkan persoalan? Kemana lagi akan kita bawa kegundahan?

Rasulullah saw., bersabda: “Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka, lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi perutnya itu seperti seekor keledai memutari penggilingan. Penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya: ‘Hai Fulan, kenapa kamu disiksa seperti ini, bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran namun aku tetap menjalankannya.'” (HR. Syaikhain)

Aturan yang baku senyatanya sudah cukup tersedia. Sangat lengkap, bahkan. Tuntunan yang sedemikian kaya akan jawaban sudah sangat memadai untuk bisa dijadikan sebagai jalan keluar dari segala permasalahan. Namun bukanlah isi kitabnya yang berkurang (semacam pasal-pasal perundangan karangan manusia yang bisa mengembang atau menyusut karena berganti kepala pemerintahan) tetapi justru faktor manusia pembawanyalah yang tak lagi sanggup untuk terus percaya bahwa dirinya masih berada di dalam bangunan moral atau merasa perlu untuk menjaganya tetap tegak. Mereka yang mengaku paham ketentuan Tuhan, hukum-hukum dan nash, naqliyah ataupun yang aqliyah, selalu menyeru kepada yang lain untuk menerapkannya di kehidupan sehari-hari, ternyata juga tak punya cukup keberanian untuk secara jujur mengatakan innaLLOHA ma’ana (sesungguhnya ALLAH ada bersama kita). Meyakini betul dan percaya bahwa ia sesungguhnya berada di jalan yang tak mengundang Murka-Nya.

Catatan atas “Sempadan”

Sempadan adalah kerling jiwa seorang Pertapa yang bersenandung dengan geraham nyaris tak terbuka. Ia membalut rasa dengan gairah yang membuatnya mengambil jarak kepadanya. Gairah itu telah merangsang sang Pertapa berdiam di tempat lain, mengacuhkan lambaian rasa yang ia percayai memanggil dengan caranya. Maka ia katakan;

     Biarlah aku hidup dengan tatapan kosongmu

Pertaruhan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, ternyata dimenangkan oleh keinginan yang lebih tinggi. Selalu begitu caranya. Keluhuran memang tak pernah bisa dipersalahkan kecuali oleh kedengkian pada penduduk Sorgaloka.

Barang Tua

Dulu, ada seorang tua bernama Hans Bague Jassin. Dalam uzurnya, dia masih memimpin tali kemudi layar kesusastraan Indonesia. Dia Orang Besar sastrawan Pujangga Baru yang saat itu tak muda lagi. Saban hari kerjanya menerima sekian dari puluhan ribu naskah yang mendarat di atas meja kerjanya untuk ditahbiskannya dan sedikit sekali dia menikmati cuti karena pekerjaan-pekerjaan itu. Terkadang orang seperti Taufiq Ismail terikut membantunya.

Ada juga satu majalah usang. Lapuk karena umur dan gayanya. Namanya Horison. Orang tua itu dan teman-temannya menjaga majalah itu seperti induk singa, siaga tapi tanpa murka. Di kantor redaksinya, sebentuk bangunan yang entah mengapa bisa begitu cocok dengan para penghuninya. Banyak orang keluar masuk datang membawa naskah dalam map-map. Ada juga yang sekedar datang untuk minta rokok pada yang lain atau menumpang minum kopi.

Ya, Hans Bague Jassin dan Horison adalah barang lama. Berdua mereka adalah perbatasan antara yang “dulu” dan “kini”. Nisbi dalam pengucapan tapi mutlak untuk bisa dirasakan. Kalau melihat kita saat ini, kecepatan mundur kita jauh melebihi kecepatan majunya. Kita bisa merasakan beberapa kali bisa maju beberapa inchi tapi kemudian melesat mundur bermil-mil jauhnya. Mengingat lagi Hans Bague Jassin dan Horison, seperti membeli kesenangan yang hanya ada dalam bungkus waktu yang telah lewat.

Beberapa peristiwa besar mempengaruhi namanya. Sukarno mengambil jarak agar tak kentara dialah sebenarnya yang mengirim laskar Lekra menyerbu pikiran-pikirannya; tengoklah betapa seorang Hans Bague Jassin, lebih dikenal sebagai HB. Jassin, memilih sembilan bulan dibui demi membayar kebungkamannya.

Pada penghujung 1998, saat Jakarta sesak oleh udara yang dihembuskan bara reformasi dalam bisikan-bisikan ibu-ibu. Aku menjabat tangannya. Lembut tapi ada tekanan kuat di genggamannya. Aku katakan siapa yang berani melangkahi Orang Tua sepertinya dan memilih dibela sambil tetap bersembunyi. Dia tetap bungkam. Sikap yang sama seperti saat Pengadilan mengadilinya atas “Langit Makin Mendung”, tapi kali ini dengan seuntai senyum simpul kebapakan, yang telah berpengalaman memaafkan banyak orang.