JEMBATAN KEARIFAN MASA SILAM

Setelah melewati “gerbang keramat” Tebuireng, dayung perahu saya kemudian saya ajak balik ke Yayasan Turats Ulama Nusantara (TUN). Sebuah yayasan yang saya temukan secara kebetulan. Tiga atau empat tahun yang lalu.

Waktu itu ada haflah di lingkungan lembaga pendidikan al-Qudsiyah, Kota Kudus. Saya tak terlalu tertarik dengan haflah-nya. Event rutin yang biasa. Toh dari kanak-kanak saya sudah sering mengikuti perayaan akhir tahun yang menjadi budaya di pesantren-pesantren itu. Tapi ada sesuatu yang kemudian memaksa saya sanggup berkendara jauh. Dari ujung timur pulau Jawa sampai ke tempat acara itu.

Betul. Saya mesti berkendara sekian jam ke Kota Kretek itu. Hanya untuk menghadiri sebuah acara haflah akhir sanah sebuah pesantren, yang saya bahkan tidak pernah mondok di situ. Ora dong sekali, kan?

Saya tertarik datang karena diantara agenda perayaan akhir sanah itu ada acara Pameran Turots Ulama Nusantara. Bagi saya hal itu menarik sekali. Malah terasa agak aneh. Unik saja rasanya. Jauh di lubuk hati, saya sudah skeptis ada orang (swasta) yang masih memperdulikan turots ulama kita.

TUN adalah sebuah yayasan mungil yang didapuk untuk memanggul misi raksasa: Mengidentifikasi karya-karya Ulama se-Nusantara (dalam pengertian sebagai wilayah yang membentang antara DI Aceh hingga Papua; Joko Darmawan 2011), menginventarisir dan sebisa mungkin menyebarkan seluas-luasnya ke tengah masyarakat.

Yayasan ini didirikan dan digawangi oleh Gus Nanal. Nekat. Sendirian. Sampai pernah pula dimuat dalam website NU (http://www.nu.or.id/post/read/73457/lima-tahun-nanal-berhasil-koleksi-350-kitab-ulama-nusantara). Gus Nanal di situ dipotret bak seorang hero.

Yayasan inilah yang memberi saya informasi melimpah tentang turots Ulama kita. Sehingga saya nyaris tak mengeluarkan keringat untuk mendapatkan data sebegitu banyaknya. Tidak saja sekedar berupa informasi, tapi juga fisik dari kitab-kitab langka itu.

Gus Nanal adalah contoh kongkret santri waras (‘aqil), karena paham kebutuhan generasinya pada turats ulamanya. Sekaligus juga edan (majnun). Karena meski sudah tahu bakal tidak banyak yg nggagas (peduli), masih juga rajin pameran dan mempromosikan kegiatannya itu kemana-mana. Pakai uang sendiri tentunya. Yang tidak banyak itu.

Kini ratusan judul kitab karya Ulama kita telah rapi terarsipkan di bilik kantor TUN, yang sekaligus adalah Pesantren dan Zawiyah Khuffadz asuhan Gus Nanal dan Nyainya. Di suatu tikungan jalan menanjak. Diantara bukit-bukit singkong. Jauh dari toserba. Ngumpet di pedalaman Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Saya sendiri sempat tidak yakin desa itu masih termasuk Indonesia. Saking melip-nya.

Meski begitu, lemari kitab TUN di mata saya adalah peti harta karun yang tak ternilai harganya. Saya sudah marem dengan hanya melihat naskah-naskah itu menyandar santai di lemarinya. Menunggu dijemput untuk diajak perang. Memerangi kejahilan maksudnya.

Baunya juga khas. Bau kitab lama. Dan Gus Nanal mengerti betul bagaimana caranya merawat kertas-kertas yang sudah terbilang uzur itu agar tak lekas rusak. Bukan sekedar agar tak kehilangan baunya saja.

Saya bisa membayangkan, betapa besar manfaat yang kitab-kitab itu bisa berikan untuk bangsa ini nanti. Saat mereka sudah dibangunkan dari tidur panjangnya. Menyebarkan kearifan ke seantero penjuru negeri. Bahkan hingga ke mancanegara. Dan TUN, sejak pola dan moda komunikasi berubah karena teknologi, rupanya ia juga menggeliat.

Jejaring komunikasi yang berhasil dibangun oleh Gus Nanal, berkat kemajuan teknologi komunikasi, telah sukses menyatukan banyak pihak yang memiliki minat yang sama dengannya. Untuk nimbrung dalam obrolan tentang turots dan segala pernak-perniknya.

Soal perburuan naskah. Kendala pengangkutan. Hingga persoalan perawatan lembar-lembar naskah kuno itu. Mungkin bagi orang lain topik semacam itu akan sangat membosankan. Tapi tidak bagi mereka yang memiliki minat besar pada literatur kuno.

Melalui Facebook dan Whatsapp, TUN berhasil menjaring banyak tokoh filolog (ahli pernaskahan) dan muhaqqiq serta kolektor potensial.

Tak kurang dari Prof. Dr. Oman Fathurrahman, PhD. (Staf Ahli Menteri Agama RI), Dr. Ismail Yahya (Dosen Senior UIN Surakarta), Dr. Aguk Irawan, Ginanjar Sya’ban, dan seabreg anggota Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), serta beberapa tokoh pernaskahan kaliber Internasional yang tertarik dengan turots Ulama kita, menjadi anggota di Whatsapp group TUN.

Dari yayasan kecil inilah saya berharap banyak, dapat terbangun sebuah jembatan yang menghubungkan kita dengan kearifan para Ulama kita di masa silam.

Tanpa dicari takkan ditemukan. Tak ditemukan, lebih sial lagi, permata itu akan selamanya terpendam dan terlupakan.

Lereng Bromo, 22 Dz. Qo’dah 1439 H.

GERBANG KERAMAT

Bermula dari sowan-sowan saya kepada beberapa Kyaiyaat, termasuk kepada Syaikhina Maimoen Zubeir, saya banyak mendapati kesan bahwa para sesepuh kita sebenarnya sudah lama berharap —untuk tidak mengatakannya rindu, pada upaya penggalian dan promosi yg lebih intens terhadap pemikiran-pemikiran para Masyayikh Mu’assis Nahdlatul Ulama. Jam’iyah yang begitu kesuwur “masyaAllah” ini.

Secara spesifik, Mbah Maimoen pernah dawuh kalau PBNU itu, “pantesnya menjadi pelopor sosialisasinya”. Yang jualan konsep pemikiran para pendirinya itu ke mana-mana. Dan menegaskan eksistensi serta, bilamana mungkin, mengujinya pada berbagai medan uji yang bisa dihadirkan.

Saya juga mbathin; sebagai jam’iyah yang dibesarkan oleh lingkungan dengan spirit khidzmah yang sangat kuat, tentu lazimlah jika NU secara kelembagaan tampil paling depan menjadi agen utama penyebaran ideologi atau pokok ajaran para Masyayikh Mu’assis-nya.

Tidak saja secara implementatif-praksis, amaliyah, akan tetapi juga dalam bentuk kajian ilmiah. Serta menghadirkannya ke tengah masyarakat sebagai suatu diskursus yang secara istiqamah dimuliakan. Diniatkan sebagai bentuk reaktualisasi atas term “khidzmah” itu tadi.

Ini seperti matematika SD saja, kan? Kasy syamsi fin nahar, kata orang Arab. Nilai keutamaan dari ikhtiar itu jika dilogika secara sederhana saja, jelas ideal sekali. Tidak perlu dibahas lagi. ~Ada santri, kok berkhidzmah kepada kyainya dengan menyebarkan pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajaran yang menjadi tirkah atau warisan kyainya. Ya jempol sekali itu. Sangat pantas.

Dari situlah, karena ingin menjadi “pantas”, saya makin bersemangat berikhtiar.

Terlebih dulu saya mencari tahu, siapa pihak yang bisa saya ajak kerjasama. Saya utamakan mereka yg sudah menginventarisir data. Terkait memori maupun yang sudah berwujud naskah.

Ternyata tak perlu waktu lama. Berlabuhlah perahu kecil saya ke hasil kerja mendiang Allahyarham Gus Ishom bin Hadziq bin Hadratusyeikh Muhammad Hasyim Asy’ari. Yang memang menjadi jujugan dan harapan pertama saya.

Melalui ketersambungan dengan data dokumentasi yang ada pada maktabah dan mathba’ah Gus Ishom itulah, yang kini dijaga oleh adiknya, Gus Zaki Hadziq, saya bisa bernafas lega. Karena saya merasa berhasil menemukan titik tolak berangkat, starting point, yang perfect untuk proyek besar revitalisasi turots Masyayikh Mu’assis NU ini, justru melalui gerbang Pondok Tebuireng.

Kental hawa Nahdloh-nya. Maknyus sekali rasanya. Lagi-lagi, ini saya rasa sangat pantas.

Sebagai dzuriyah Hadratusyeikh, Gus Ishom tentu wajar jika sangat fokus pada upaya memelihara karya Simbahnya. Malah ditambahkannya dalam koleksi itu, beberapa karyanya sendiri. Bukan karya ecek-ecek pula. Bersanding dengan karya sang kakek. Jadinya saya seperti menemukan “one-stop-shop” bagi khazanah dzahabiyah. Karya imam Mu’assis Nahdloh dan cucunya sekaligus. Ini juga maknyus, tentunya. AlhamduliLLah.

Begitulah perjalanan ini saya rasa bisa dimulai. Dari Tebuireng. “Gerbang Keramat” yang telah melepaskan ribuan rijaal dari rengkuhan tarbiyah Hadratusyeikh Muhammad Hasyim Asy’ari radhiyaLlohu Ta’ala anhu. Mengabdi kepada keunggulan ilmu dan akhlaq. Merawat ummat dengan sepenuh kesadaran akan tanggungjawab sebagai sarjana kesalafan dan duta bagi kemuliaan adab atau budipekerti.

Lereng Bromo, 6 Syawwal 1439.

Prasangka Berkeluarga

Kau tidak bisa berharap pasanganmu akan selalu berada di hatimu seperti saat pertama kali kalian dipersatukan oleh cinta. Hal seperti itu hanya ada di kisah-kisah romansa.

Tapi jangan khawatir. Tahapan berikutnya justru akan membuat hubungan kalian makin kaya. Saat kau sudah merasakan kehadirannya sebagai seorang sahabat.

Kalian akan berselisih dan mempertahankan ego. Tapi itu bukan karena perang kepentingan. Pada tahap itu kalian makin jujur pada satu sama lain. Karena harta dalam persahabatan adalah kejujuran menunjukkan sikap. Tanpa drama.

Setingkat kemudian, bukannya tak lagi menjadi sahabat, tetapi kalian malah menjadi sepasang saudara. Ya, saudara. Lain bapak lain ibu. Kalian akan otomatis menutupi aib masing-masing dan mampu berkorban apa saja untuk saling membela.

Karena kesetiaan tertinggi ada pada rasa persaudaraan. Di atas kepayang romansa kepada pacar atau kejujuran diantara para sahabat.

Jl. Makrifat Gg. Buntu

Menjangkau keagungan Tuhan adalah pekerjaan yang menuntut kedewasaan. Tuhan tidak bisa diterima secara utuh dalam sikap sederhana; karena adat, keluarga atau masa lalu. Tuhan hanya ada dalam jiwa yang telah sanggup melebur dan menjadi bagian dari kesemestaanNya.

Para ahli Tasawuf mendefinisikan bahwa manusia itu secara independen hakikatnya tidak ada. Maka segala sifat ketiadaan adalah sifatnya. Itulah kemiskinan hakiki. Akan halnya konsepsi mengenai kebodohan, ilmu, lemah, kuat, gelap, terang, baik, buruk, masuk kemudian setelah adanya Dzat Tuhan yg mengisi. Artinya, menurut mereka, sifat ke-“ada”-an hanyalah pantulan dari Tuhan yg mewujud.

Sayap pemikiran manusia, sepanjang jangkauan akalbudinya, memiliki kecenderungan untuk bertahan pada apa yang sudah mapan, dan getaran yang muncul dari pusat dirinya seringkali meningkahi keputusan-keputusan yang dibuat. Celakanya, justru di titik krusial itulah super ego bertahta.

Akan halnya agama, seperangkat aturan yang memunculkan batas-batas, memunculkan dimensi lain dari sekedar iman. Itulah ketertundukan pada hal-hal yg sebelumnya telah diterima tanpa melibatkan akalbudi samasekali. Itulah mengapa dalam Islam ada konsep Iman dan Taqwa. Dua aspek yg beriringan menuju pengetahuan akan Tuhan.

Kita Mewariskan Apa Kepada Anak Cucu?

Searah dengan kesimpangsiuran perilaku dan semakin tak dihiraukannya budi pekerti, di situlah kita hidup saat ini. Di pinggir jalan ketika roda-roda jaman menggilas apa saja di sepanjang jalur yang dilaluinya, di situlah tempat kita menaruh harap pada generasi yang akan datang.

Kata-kata yang tak lazim sudah diucapkan. Tingkah-polah ganjil yang tak pernah sesuai untuk segala suasana, dan di segala tempat, oleh siapapun juga, telah banyak kali dilakukan. Itupun dengan aksi pendiaman oleh mayoritas masyarakat. Seolah tak terjadi apa-apa. Bukan tidak mungkin pada akhirnya nanti tidak ada lagi yang merasa perlu untuk mengambil tindakan terhadap sesuatu yang tidak pantas diucapkan ataupun cukup bisa diterima akal sehat untuk dilakukan.

Karena sudah sekian kali terulang dan makin banyak orang yang melakukan, suatu perbuatan terburukpun pada akhirnya bisa diterima karena, katanya, ia sudah kerap kali dilakukan dan, oleh karenanya, dianggap lumrah. Maka tampaklah perbuatan yang biadab menjadi tidak lagi luar biasa, masih dalam batas kewajaran karena “batas” itu telah mengendur hingga meluas ke tingkatan yang paling rendah. Maka dalam kebisingan yang kian menyesakkan itulah kita merasa disuguhi oleh Sang Jaman dengan kejadian-kejadian yang semakin buruk. Kian hari kian memburuk. Lalu, dengan pegangan yang terus tergerus dan semakin menipis, kita menjadi mudah risau karena harus menghindarkan anak-anak kita dari contoh yang semakin tak pantas bagi tumbuh-kembang jiwa mereka.

Lihatlah pada para “guru” yang tak lagi patuh pada aturan, pemimpin yang mencederai kepercayaan atau penjaga yang sanggup mencuri apa yang dipercayakan padanya. Semua contoh buruk telah memampang seluruh auratnya di depan mata.

Bukanlah bahaya Tsunami, semburan lumpur Sidoarjo, flu burung, ataupun gempa bumi saja yang sering membuat kita resah, namun merosotnya harga diri serta hilangnya rasa malu diantara umat manusialah yang diam-diam sering mengganggu benak kita. Ibarat seekor rubah yang tengah mengintai mangsanya, bencana dahsyat yang bernama kehancuran moral itu menunggu saat yang tepat sebelum akhirnya ia benar-benar membinasakan nilai-nilai kemanusiaan dan mencabut pembatas yang memisahkan antara kemanusiaan dan kebinatangan. Ketika perbuatan tak lagi ditimbang berdasar kepatutan dan martabat, namun lebih diukur dengan kepentingan-kepentingan nafsu hewani.

Sempat kita terpikir untuk menaruh harap pada ahli-ahli etika, tokoh-tokoh moralis atau bahkan pemuka-pemuka agama. Mereka, dengan pengetahuan yang cukup memadai –setidaknya begitulah yang kita harapkan, akan mengurangi beban kekhawatiran kita dan akan selalu menjadi tempat bersandar sekian pertanyaan sebagai solusi atas makin kompleksnya problematika kehidupan. Namun ketika sebaran wabah zaman ternyata telah pula menjangkiti kalangan itu, menempelkan karat di bilah obyektifitas nalar mereka dan menawarkan sekian kenikmatan yang meninabobokan, merekapun tak ubahnya seperti yang lain. Atau mungkin bahkan menjadi agen-agen distorsi itu sendiri. Lantas kalau sudah begitu, kemana lagi kita akan menghadapkan persoalan? Kemana lagi akan kita bawa kegundahan?

Rasulullah saw., bersabda: “Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka, lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi perutnya itu seperti seekor keledai memutari penggilingan. Penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya: ‘Hai Fulan, kenapa kamu disiksa seperti ini, bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran namun aku tetap menjalankannya.'” (HR. Syaikhain)

Aturan yang baku senyatanya sudah cukup tersedia. Sangat lengkap, bahkan. Tuntunan yang sedemikian kaya akan jawaban sudah sangat memadai untuk bisa dijadikan sebagai jalan keluar dari segala permasalahan. Namun bukanlah isi kitabnya yang berkurang (semacam pasal-pasal perundangan karangan manusia yang bisa mengembang atau menyusut karena berganti kepala pemerintahan) tetapi justru faktor manusia pembawanyalah yang tak lagi sanggup untuk terus percaya bahwa dirinya masih berada di dalam bangunan moral atau merasa perlu untuk menjaganya tetap tegak. Mereka yang mengaku paham ketentuan Tuhan, hukum-hukum dan nash, naqliyah ataupun yang aqliyah, selalu menyeru kepada yang lain untuk menerapkannya di kehidupan sehari-hari, ternyata juga tak punya cukup keberanian untuk secara jujur mengatakan innaLLOHA ma’ana (sesungguhnya ALLAH ada bersama kita). Meyakini betul dan percaya bahwa ia sesungguhnya berada di jalan yang tak mengundang Murka-Nya.