GERBANG KERAMAT

Bermula dari sowan-sowan saya kepada beberapa Kyaiyaat, termasuk kepada Syaikhina Maimoen Zubeir, saya banyak mendapati kesan bahwa para sesepuh kita sebenarnya sudah lama berharap —untuk tidak mengatakannya rindu, pada upaya penggalian dan promosi yg lebih intens terhadap pemikiran-pemikiran para Masyayikh Mu’assis Nahdlatul Ulama. Jam’iyah yang begitu kesuwur “masyaAllah” ini.

Secara spesifik, Mbah Maimoen pernah dawuh kalau PBNU itu, “pantesnya menjadi pelopor sosialisasinya”. Yang jualan konsep pemikiran para pendirinya itu ke mana-mana. Dan menegaskan eksistensi serta, bilamana mungkin, mengujinya pada berbagai medan uji yang bisa dihadirkan.

Saya juga mbathin; sebagai jam’iyah yang dibesarkan oleh lingkungan dengan spirit khidzmah yang sangat kuat, tentu lazimlah jika NU secara kelembagaan tampil paling depan menjadi agen utama penyebaran ideologi atau pokok ajaran para Masyayikh Mu’assis-nya.

Tidak saja secara implementatif-praksis, amaliyah, akan tetapi juga dalam bentuk kajian ilmiah. Serta menghadirkannya ke tengah masyarakat sebagai suatu diskursus yang secara istiqamah dimuliakan. Diniatkan sebagai bentuk reaktualisasi atas term “khidzmah” itu tadi.

Ini seperti matematika SD saja, kan? Kasy syamsi fin nahar, kata orang Arab. Nilai keutamaan dari ikhtiar itu jika dilogika secara sederhana saja, jelas ideal sekali. Tidak perlu dibahas lagi. ~Ada santri, kok berkhidzmah kepada kyainya dengan menyebarkan pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajaran yang menjadi tirkah atau warisan kyainya. Ya jempol sekali itu. Sangat pantas.

Dari situlah, karena ingin menjadi “pantas”, saya makin bersemangat berikhtiar.

Terlebih dulu saya mencari tahu, siapa pihak yang bisa saya ajak kerjasama. Saya utamakan mereka yg sudah menginventarisir data. Terkait memori maupun yang sudah berwujud naskah.

Ternyata tak perlu waktu lama. Berlabuhlah perahu kecil saya ke hasil kerja mendiang Allahyarham Gus Ishom bin Hadziq bin Hadratusyeikh Muhammad Hasyim Asy’ari. Yang memang menjadi jujugan dan harapan pertama saya.

Melalui ketersambungan dengan data dokumentasi yang ada pada maktabah dan mathba’ah Gus Ishom itulah, yang kini dijaga oleh adiknya, Gus Zaki Hadziq, saya bisa bernafas lega. Karena saya merasa berhasil menemukan titik tolak berangkat, starting point, yang perfect untuk proyek besar revitalisasi turots Masyayikh Mu’assis NU ini, justru melalui gerbang Pondok Tebuireng.

Kental hawa Nahdloh-nya. Maknyus sekali rasanya. Lagi-lagi, ini saya rasa sangat pantas.

Sebagai dzuriyah Hadratusyeikh, Gus Ishom tentu wajar jika sangat fokus pada upaya memelihara karya Simbahnya. Malah ditambahkannya dalam koleksi itu, beberapa karyanya sendiri. Bukan karya ecek-ecek pula. Bersanding dengan karya sang kakek. Jadinya saya seperti menemukan “one-stop-shop” bagi khazanah dzahabiyah. Karya imam Mu’assis Nahdloh dan cucunya sekaligus. Ini juga maknyus, tentunya. AlhamduliLLah.

Begitulah perjalanan ini saya rasa bisa dimulai. Dari Tebuireng. “Gerbang Keramat” yang telah melepaskan ribuan rijaal dari rengkuhan tarbiyah Hadratusyeikh Muhammad Hasyim Asy’ari radhiyaLlohu Ta’ala anhu. Mengabdi kepada keunggulan ilmu dan akhlaq. Merawat ummat dengan sepenuh kesadaran akan tanggungjawab sebagai sarjana kesalafan dan duta bagi kemuliaan adab atau budipekerti.

Lereng Bromo, 6 Syawwal 1439.