Membaca Tanpa Huruf

Dunia kita dunia pelipur
Jenaka rupawan memikat selera
Tanpa luka hanya pesona
Hingga membuat kita tertidur

Bangun!
Dunia kita ada di mata

Semua kosakata tak hilang
Tersimpan utuh
Tentang bangun dan jatuh
Menunggu datang para pendulang

Ambil!
Seluruh cerita tanpa jeda

Stale Espresso

The sky is bleak
No light in plain black
Cold
Hidden in a mould
Silent as a whole
Bitter
No completion
Lost
Pain with remorse

I slightly smile with my winning moments

Staying Summoned

From the house of the Unicorn
White and blue strip
Heightened by millions of pink pearls
Makes me rejuvenate
Reveals life
So easily

I
Desperately
Need this

Jl. Makrifat Gg. Buntu

Menjangkau keagungan Tuhan adalah pekerjaan yang menuntut kedewasaan. Tuhan tidak bisa diterima secara utuh dalam sikap sederhana; karena adat, keluarga atau masa lalu. Tuhan hanya ada dalam jiwa yang telah sanggup melebur dan menjadi bagian dari kesemestaanNya.

Para ahli Tasawuf mendefinisikan bahwa manusia itu secara independen hakikatnya tidak ada. Maka segala sifat ketiadaan adalah sifatnya. Itulah kemiskinan hakiki. Akan halnya konsepsi mengenai kebodohan, ilmu, lemah, kuat, gelap, terang, baik, buruk, masuk kemudian setelah adanya Dzat Tuhan yg mengisi. Artinya, menurut mereka, sifat ke-“ada”-an hanyalah pantulan dari Tuhan yg mewujud.

Sayap pemikiran manusia, sepanjang jangkauan akalbudinya, memiliki kecenderungan untuk bertahan pada apa yang sudah mapan, dan getaran yang muncul dari pusat dirinya seringkali meningkahi keputusan-keputusan yang dibuat. Celakanya, justru di titik krusial itulah super ego bertahta.

Akan halnya agama, seperangkat aturan yang memunculkan batas-batas, memunculkan dimensi lain dari sekedar iman. Itulah ketertundukan pada hal-hal yg sebelumnya telah diterima tanpa melibatkan akalbudi samasekali. Itulah mengapa dalam Islam ada konsep Iman dan Taqwa. Dua aspek yg beriringan menuju pengetahuan akan Tuhan.