Makkahmu, Makkah Kita

Bahwa kebatilan tidak berada di perbuatan, tapi bermukim di pikiran. Nikmati saja Makkah atau bahkan Wahabisme dengan kesadaran penuh, tanpa pikiran tabu

Jika dimudahkan, berterima kasihlah. Jika dihalangi, bersyukurlah karena Tuhan Berkenan Melatih kita.

Orang gila yang marah tak pernah dihukum. Tapi orang dengan pikiran tabu, akan melakukan apapun yg dilarang. Itulah makanya, tanpa pikiran, tak ada dosa.

Kau perlu alasan apa untuk gembira
Rupa jasad atau pesta dalam hati?
Sedang Sang Waktu dengan aturannya sendiri
Menyentuh tiap garisnya tanpa ampun.

(Mencintai Jiwa)

Nikmati saja Makkah hari ini…

Kerinduan kita pada Makkah yang dulu, romantisme yang syahdu itu, atau rasa sayang pada landskapnya yang dihilangkan, hanya membuat kita semakin tak hirau pada apa yang ada. Memeluk masa lalu yang dihapus waktu dan berpaling dari kekinian untuk kemudian meratap.

Kalau mau menangisi apa yang sudah hilang, lakukan dengan lebih bermartabat. Angkat tanganmu ke hadapan Tuhan. Tapi jangan minta apa yang tak dapat kau tanggung bebannya.

Mencintai Jiwa

“Mata ini sudah buta
Pada segala yg bisa disentuh angin
Hidung ini tak kenal bauan
Telinga yang menuli dari segala suara”

Apa jadinya cerita
Saat bukan lagi badan atau muka
Pandangan yang tak lagi jadi jurinya
Kukatakan indah begitu saja

Kau perlu alasan apa untuk gembira
Rupa jasad atau pesta dalam hati?
Sedang Sang Waktu dengan aturannya sendiri
Menyentuh tiap garisnya tanpa ampun

Yang ini tak terpengaruh pekerjaan waktu
Barang bagus tak lekang oleh masa
Bukankah karena usianya yang tak lagi tertebak,
Manusia bertingkah aneh pada keindahan?

Itulah keinginan cemerlang
Mencintai paling jujur
Mata hanya menatap cahaya
Pendar kebiruan yang melayang di antara tiang-tiang misik