Tursinamu

Bagaimana denganmu, jika dikatakan lembah ini lebih agung, utama, suci dan tua dari Tursina?

Kau tentu bersamaku.

Jika pada Tursina, Lawan Bicara Tuhan harus melepas terompahnya, mengapa manusia lebih kecil sepertimu enggan menginjak lembah ini dengan kaki telanjangmu. Sampai debu dan najis basah pada alas kaki dari duniamu kau bawa serta ke lembah ini. Di latar RumahNya?

Kau tak bergeming.

Apakah cantik di permukaan melipurmu meski dengan sampah di sol sepatumu. Merambah sudut Tanah Mulia ini. Kegemilangan apakah yang menipumu?

Kau masih terkesima pada dirimu. Kau tak mengundang siapapun pada pestamu. Lupakah kau pada terang petir-petir yang menyambar tanduk-tanduk itu?

Aku tidak…

Aman

Tak terasakah Dia Menjagamu
Memperhatikanmu dalam rahasia
Melihatmu kapan saja
Tak pernah Membiarkanmu sendiri
Menutup aibmu dari penglihatan manusia

Tapi
Kau ulurkan lenganmu
Kau arahkan pandangan
Kau tumpukan harapan
Tidak pada Dia

Akalmu berhitung cermat
Tenagamu terperas habis
Khayalmu terbang jauh
Mencengkeram hidupmu tanpa jaminan

Dia Menawarkan kasih sayang
Kau berhitung lagi
Dia Memberi yang terbaik
Kau masih merasa penting

Kejelasan dalam PengetahuanNya
Tak cukup meyakinkan bagimu
Kau tak sadar semua mungkin bagiNya
Karena keajaiban adalah hal biasa yang
kau tak mampu menjelaskannya

Berhitung Tanpa Angka

Tidaklah terdapat jumlah
Tanpa ada bilangan terkumpul
Kemestian tak selalu nyata
Yang tak terlihat juga terhitung

Dari lapis kenisbian yang tak nyata
Hitungan selalu pasti
Karena kenyataan tanpa bentuk
Mengambil jarak dari angka

Itulah mengapa
Satu tak selalu sebelum dua
Ia mengajarkan pada kita
Yang satu berarti tiada dua

Kau yang melihat jumlah sebagai natijah
Tak pernah mengerti perjalanan ini
Yang mendahulukan cemburu
Sebelum pikiran