Kita Mewariskan Apa Kepada Anak Cucu?

Searah dengan kesimpangsiuran perilaku dan semakin tak dihiraukannya budi pekerti, di situlah kita hidup saat ini. Di pinggir jalan ketika roda-roda jaman menggilas apa saja di sepanjang jalur yang dilaluinya, di situlah tempat kita menaruh harap pada generasi yang akan datang.

Kata-kata yang tak lazim sudah diucapkan. Tingkah-polah ganjil yang tak pernah sesuai untuk segala suasana, dan di segala tempat, oleh siapapun juga, telah banyak kali dilakukan. Itupun dengan aksi pendiaman oleh mayoritas masyarakat. Seolah tak terjadi apa-apa. Bukan tidak mungkin pada akhirnya nanti tidak ada lagi yang merasa perlu untuk mengambil tindakan terhadap sesuatu yang tidak pantas diucapkan ataupun cukup bisa diterima akal sehat untuk dilakukan.

Karena sudah sekian kali terulang dan makin banyak orang yang melakukan, suatu perbuatan terburukpun pada akhirnya bisa diterima karena, katanya, ia sudah kerap kali dilakukan dan, oleh karenanya, dianggap lumrah. Maka tampaklah perbuatan yang biadab menjadi tidak lagi luar biasa, masih dalam batas kewajaran karena “batas” itu telah mengendur hingga meluas ke tingkatan yang paling rendah. Maka dalam kebisingan yang kian menyesakkan itulah kita merasa disuguhi oleh Sang Jaman dengan kejadian-kejadian yang semakin buruk. Kian hari kian memburuk. Lalu, dengan pegangan yang terus tergerus dan semakin menipis, kita menjadi mudah risau karena harus menghindarkan anak-anak kita dari contoh yang semakin tak pantas bagi tumbuh-kembang jiwa mereka.

Lihatlah pada para “guru” yang tak lagi patuh pada aturan, pemimpin yang mencederai kepercayaan atau penjaga yang sanggup mencuri apa yang dipercayakan padanya. Semua contoh buruk telah memampang seluruh auratnya di depan mata.

Bukanlah bahaya Tsunami, semburan lumpur Sidoarjo, flu burung, ataupun gempa bumi saja yang sering membuat kita resah, namun merosotnya harga diri serta hilangnya rasa malu diantara umat manusialah yang diam-diam sering mengganggu benak kita. Ibarat seekor rubah yang tengah mengintai mangsanya, bencana dahsyat yang bernama kehancuran moral itu menunggu saat yang tepat sebelum akhirnya ia benar-benar membinasakan nilai-nilai kemanusiaan dan mencabut pembatas yang memisahkan antara kemanusiaan dan kebinatangan. Ketika perbuatan tak lagi ditimbang berdasar kepatutan dan martabat, namun lebih diukur dengan kepentingan-kepentingan nafsu hewani.

Sempat kita terpikir untuk menaruh harap pada ahli-ahli etika, tokoh-tokoh moralis atau bahkan pemuka-pemuka agama. Mereka, dengan pengetahuan yang cukup memadai –setidaknya begitulah yang kita harapkan, akan mengurangi beban kekhawatiran kita dan akan selalu menjadi tempat bersandar sekian pertanyaan sebagai solusi atas makin kompleksnya problematika kehidupan. Namun ketika sebaran wabah zaman ternyata telah pula menjangkiti kalangan itu, menempelkan karat di bilah obyektifitas nalar mereka dan menawarkan sekian kenikmatan yang meninabobokan, merekapun tak ubahnya seperti yang lain. Atau mungkin bahkan menjadi agen-agen distorsi itu sendiri. Lantas kalau sudah begitu, kemana lagi kita akan menghadapkan persoalan? Kemana lagi akan kita bawa kegundahan?

Rasulullah saw., bersabda: “Pada hari kiamat nanti seorang lelaki dilemparkan ke dalam neraka, lalu seluruh isi perutnya keluar, kemudian ia berputar membawa isi perutnya itu seperti seekor keledai memutari penggilingan. Penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya: ‘Hai Fulan, kenapa kamu disiksa seperti ini, bukankah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Benar, aku dahulu menyeru kepada kebaikan, tetapi aku tidak melakukannya dan mencegah kemungkaran namun aku tetap menjalankannya.'” (HR. Syaikhain)

Aturan yang baku senyatanya sudah cukup tersedia. Sangat lengkap, bahkan. Tuntunan yang sedemikian kaya akan jawaban sudah sangat memadai untuk bisa dijadikan sebagai jalan keluar dari segala permasalahan. Namun bukanlah isi kitabnya yang berkurang (semacam pasal-pasal perundangan karangan manusia yang bisa mengembang atau menyusut karena berganti kepala pemerintahan) tetapi justru faktor manusia pembawanyalah yang tak lagi sanggup untuk terus percaya bahwa dirinya masih berada di dalam bangunan moral atau merasa perlu untuk menjaganya tetap tegak. Mereka yang mengaku paham ketentuan Tuhan, hukum-hukum dan nash, naqliyah ataupun yang aqliyah, selalu menyeru kepada yang lain untuk menerapkannya di kehidupan sehari-hari, ternyata juga tak punya cukup keberanian untuk secara jujur mengatakan innaLLOHA ma’ana (sesungguhnya ALLAH ada bersama kita). Meyakini betul dan percaya bahwa ia sesungguhnya berada di jalan yang tak mengundang Murka-Nya.