Catatan atas “Sempadan”

Sempadan adalah kerling jiwa seorang Pertapa yang bersenandung dengan geraham nyaris tak terbuka. Ia membalut rasa dengan gairah yang membuatnya mengambil jarak kepadanya. Gairah itu telah merangsang sang Pertapa berdiam di tempat lain, mengacuhkan lambaian rasa yang ia percayai memanggil dengan caranya. Maka ia katakan;

     Biarlah aku hidup dengan tatapan kosongmu

Pertaruhan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, ternyata dimenangkan oleh keinginan yang lebih tinggi. Selalu begitu caranya. Keluhuran memang tak pernah bisa dipersalahkan kecuali oleh kedengkian pada penduduk Sorgaloka.

Sempadan

Yang tak kau lihat adalah aku

Garis tipis di cakrawalamu

Aku tak maju

Kaupun begitu

Biarlah aku hidup dengan tatapan kosongmu